Sabtu, 26 Desember 2009
Kerangka Karangan (Outline)
2. sebutkan manfaat outline !
3. Sebutkan Langkah – langkah menyusun outline ?
4. Macam – macam outline ?
JAWABAN
1. Outline adalah kerangka karangan yang merupakan rencana penulisan yang memuat garis-garis besar dari suatu karangan yang akan digarap, dan merupakan rangkaian ide-ide yang disusun secara sistematis, logis, jelas, terstruktur, dan teratur.
2. - Memudahkan penyusunan kerangka secara teratur sehingga karangan menjadi lebih sistematis dan mencegah penulis r dari sasaran yang sudah dirumuskan dalam topic atau judul
- Memudahkan penempatan antara bagian karangan yang penting dan yang tidak penting.
- Menghindari timbulnya pengulangan pembahasan.
- Memperlihatkan bagian-bagian pokok karangan secara memberaikan kemungkinan bagi perluasan bagian-bagian tersebut sehingga membantu penulis menciptakan suasana yang berbeda-beda dengan fariasi yang diinginkan.
- Membantu mengumpulkan data dan sumber-sumber yang diperlukan.
3. - Cantumkan sub–sub bagian.
- Mulailah dengan pembagian secara garis besar dahulu dengan menyeluruh.
- Setelah itu uraikan setiap butir kedalam sub-sub bagian.
- Pergunakanlah tanda yang berbeda untuk memperlihatkan tingkat (hierarki) butir- butir dalam kerangka.
- Jagalah agar hubungan antara bagian dengan sub bagiannya selalu konsistan dan jelas.
4. - Outline dengan pola ilustratif : arah pembicaraan menurut pola ini adalah dari umum kepada yang khusus.
- Outline dengan pola analitis : arah pola pembicaraan ini berkembang dengan sifat topik yang memiliki banyak unit dalam satu kesatuan dengan urutan metode klasifikasi, proses, dan analisis sebab akibat.
- Outline dengan pola argumentasi : dipergunakan dalam menyusun evidensi, arah pembahasan menurut pola ini ialah dari evidensi sebagai premis kepada kesimpulan.
Selasa, 15 Desember 2009
Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)
Ejaan Yang Disempurnakan (EYD)
Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) adalah ejaan Bahasa Indonesia yang berlaku sejak tahun 1972. Ejaan ini menggantikan ejaan sebelumnya, Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi.
Pada 23 Mei 1972, sebuah pernyataan bersama telah ditandatangani oleh Menteri Pelajaran Malaysia pada masa itu, Tun Hussien Onn dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Mashuri. Pernyataan bersama tersebut mengandung persetujuan untuk melaksanakan asas yang telah disepakati oleh para ahli dari kedua negara tentang Ejaan Baru dan Ejaan Yang Disempurnakan.
Pada tanggal 16 Agustus 1972, berdasarkan Keputusan Presiden No. 57, Tahun 1972, berlakulah sistem ejaan Latin (Rumi dalam istilah bahasa Melayu
Selanjutnya Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menyebarluaskan buku panduan pemakaian berjudul "Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan".
Pada tanggal 12 Oktober 1972, Panitia Pengembangan Bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, menerbitkan buku "Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan" dengan penjelasan kaidah penggunaan yang lebih luas.
Setelah itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan
Perbedaan-perbedaan antara EYD dan ejaan sebelumnya adalah:
- 'tj' menjadi 'c' : tjutji → cuci
- 'dj' menjadi 'j' : djarak → jarak
- 'oe' menjadi 'u' : oemoem -> umum
- 'j' menjadi 'y' : sajang → sayang
- 'nj' menjadi 'ny' : njamuk → nyamuk
- 'sj' menjadi 'sy' : sjarat → syarat
- 'ch' menjadi 'kh' : achir → akhir
- awalan 'di-' dan kata depan 'di' dibedakan penulisannya. Kata depan 'di' pada contoh "di rumah", "di sawah", penulisannya dipisahkan dengan spasi, sementara 'di-' pada dibeli, dimakan ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya.
EYD mencakup penggunaan dalam 12 hal, yaitu penggunaan huruf besar (kapital), tanda koma, tanda titik, tanda seru, tanda hubung, tanda titik koma, tanda tanya, tanda petik, tanda titik dua, tanda kurung, tanda elipsis, dan tanda garis miring.
1. Penggunaan Huruf Besar atau Huruf Kapital
a. Huruf pertama kata ganti "Anda"
- Ke mana Anda mau pergi Bang Toyib?
- Saya sudah menyerahkan uang itu kepada Anda setahun yang lalu untuk dibelikan PS3.
b. Huruf pertama pada awal kalimat.
- Ayam kampus itu sudah ditertibkan oleh aparat pada malam jumat kliwon kemarin.
- Anak itu memang kurang ajar.
- Sinetron picisan itu sangat laku dan ditonton oleh jutaan pemirsanya sedunia.
c. Huruf pertama unsur nama orang
- Yusuf Bin Sanusi
- Albert Mangapin Sidabutar
- Slamet Warjoni Jaya Negara
d. Huruf pertama untuk penamaan geografi
- Bunderan Senayan
- Jalan Kramat Sentiong
- Sungai Ciliwung
e. Huruf pertama petikan langsung
- Pak kumis bertanya, "Siapa yang mencuri jambu klutuk di kebunku?"
- Si panjul menjawab, "Aku tidak Mencuri jambu klutuk, tetapi yang kucuri adalah jambu monyet".
- "Ngemeng aja lu", kata si Ucup kepada kawannya si Maskur.
f. Huruf pertama nama jabatan atau pangkat yang diikuti nama orang atau instansi.
- Camat Pesanggrahan
- Profesor Zainudin Zidane Aliudin
- Sekretaris Jendral Departemen Pendidikan Nasional
g. Huruf Pertama pada nama Negara, Pemerintahan, Lembaga Negara, juga Dokumen (kecuali kata dan).
- Mahkamah Internasional
- Republik Rakyat Cina
- Badan Pengembang Ekspor Nasional
2. Tanda Koma (,)
| a. | Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan. |
| | Misalnya: · Saya membeli kertas, pena, dan tinta. · · Satu, dua, ... tiga! |
| b. | Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi atau melainkan. |
| | Misalnya: · Saya ingin datang, tetapi hari hujan. · Didi bukan anak saya, melainkan anak Pak Kasim. |
| c. | Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya. |
| | Misalnya: · Kalau hari hujan, saya tidak akan datang. · Karena sibuk, ia lupa akan janjinya. |
| d. | Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mengiringi induk kalimatnya. |
| | Misalnya: · Saya tidak akan datang kalau hari hujan. · Dia lupa akan janjinya karena sibuk. · Dia tahu bahwa soal itu penting. |
| e. | Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi. |
| | Misalnya: · ... Oleh karena itu, kita harus berhati-hati. · ... Jadi, soalnya tidak semudah itu. |
| f. | Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan dari kata yang lain yang terdapat di dalam kalimat. |
| | Misalnya: · O, begitu? · Wah, bukan main! · Hati-hati, ya, nanti jatuh. |
| g. | Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat. Misalnya: |
| | · Kata Ibu, "Saya gembira sekali." · "Saya gembira sekali," kata Ibu, "karena kamu lulus." |
| h. | Tanda koma dipakai di antara (i) nama dan alamat,
|
| | Misalnya: · Surat-surat ini harap dialamatkan kepada Dekan Fakultas Kedokteran, Universitas · Sdr. Abdullah, Jalan Pisang Batu 1, · · |
| i. | Tanda koma dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka. Misalnya: · Alisjahbana, Sutan Takdir. 1949 Tatabahasa Baru Bahasa |
| | |
| j. | Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki. Misalnya: · W.J.S. Poerwadarminta, Bahasa Indonesia untuk Karang-mengarang (Yogyakarta: UP Indonesia, 1967), hlm. 4. |
| | |
| k. | Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga. Misalnya: · B. Ratulangi, S.E. · Ny. Khadijah, M.A. |
| | |
| l. | Tanda koma dipakai di muka angka persepuluhan atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka. Misalnya: · 12,5 m · Rp12,50 |
| | |
| m. | Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi. Misalnya · Guru saya, Pak Ahmad, pandai sekali. · Di daerah kami, misalnya, masih banyak orang laki-laki yang makan sirih. · Semua siswa, baik yang laki-laki maupun yang perempuan, mengikuti latihan paduan suara. |
| | |
| | Bandingkan dengan keterangan pembatas yang pemakaiannya tidak diapit tanda koma: · Semua siswa yang lulus ujian mendaftarkan namanya pada panitia. |
| n. | Tanda koma dapat dipakai—untuk menghindari salah baca—di belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat. Misalnya: · Dalam pembinaan dan pengembangan bahasa, kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh. · Atas bantuan Agus, Karyadi mengucapkan terima kasih. |
| | |
| | Bandingkan dengan: · Kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh dalam pembinaan dan pengembangan bahasa. · Karyadi mengucapkan terima kasih atas bantuan Agus. |
| o. | Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru. Misalnya: · "Di mana Saudara tinggal?" tanya Karim. · "Berdiri lurus-lurus!" perintahnya. |
| | |
3. Tanda Titik (.)
| |||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
6. Tanda Titik Koma (;)
| a. | Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara. Misalnya: · Malam makin larut; pekerjaan belum selesai juga. |
| | |
| b. | Tanda titik koma dapat dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk. Misalnya: · Ayah mengurus tanamannya di kebun itu; Ibu sibuk bekerja di dapur; Adik menghapal nama-nama pahlawan nasional; saya sendiri asyik mendengarkan siaran "Pilihan Pendengar". |
| | |
7. Tanda Tanya (?)
| a. | Tanda tanya dipakai pada akhir tanya. Misalnya: · Kapan ia berangkat? · Saudara tahu, bukan? |
| | |
| b. | Tanda tanya dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya. Misalnya: Ia dilahirkan pada tahun 1683 (?). Uangnya sebanyak 10 juta rupiah (?) hilang. |
| | |
8. Tanda Petik ("...")
| a. | Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lain. Misalnya: · "Saya belum siap," kata Mira, "tunggu sebentar!" · Pasal 36 UUD 1945 berbunyi, "Bahasa negara ialah Bahasa Indonesia." |
| | |
| b. | Tanda petik mengapit judul syair, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat. Misalnya: · Bacalah "Bola Lampu" dalam buku Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat. · Karangan Andi Hakim Nasoetion yang berjudul "Rapor dan Nilai Prestasi di SMA" diterbitkan dalam Tempo. · Sajak "Berdiri Aku" terdapat pada halaman 5 buku itu. |
| | |
| c. | Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus. Misalnya: · Pekerjaan itu dilaksanakan dengan cara "coba dan ralat" saja. · Ia bercelana panjang yang di kalangan remaja dikenal dengan nama "cutbrai". |
| | |
| d. | Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung. |
| | Misalnya: · Kata Tono, "Saya juga minta satu." |
| e. | Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan di belakang tanda petik yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus pada ujung kalimat atau bagian kalimat. Misalnya: · Karena warna kulitnya, Budi mendapat julukan "Si Hitam". · Bang Komar sering disebut "pahlawan"; ia sendiri tidak tahu sebabnya. |
| | |
| Catatan: Tanda petik pembuka dan tanda petik penutup pada pasangan tanda petik itu ditulis sama tinggi di sebelah atas baris. |
9. Tanda Titik Dua (:)
| a. | Tanda titik dua dapat dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau pemerian. Misalnya: · Kita sekarang memerlukan perabotan rumah tangga: kursi, meja, dan lemari. · Hanya ada dua pilihan bagi pejuang kemerdekaan itu: hidup atau mati. | |||||||||
| | | |||||||||
| | Tanda titik dua tidak dipakai jika rangkaian atau perian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan Misalnya: · Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari. · Fakultas itu mempunyai Jurusan Ekonomi Umum dan Jurusan Ekonomi Perusahaan. | |||||||||
| | | |||||||||
| b. | Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian. | |||||||||
| | Misalnya:
| |||||||||
| c. | Tanda titik dua dapat dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan. | |||||||||
| | Misalnya: | |||||||||
| |
| |||||||||
| d. | Tanda titik dua dipakai: (i) di antara jilid atau nomor dan halaman,
| |||||||||
| | Misalnya: Tempo, I (1971), 34:7 Surah Yasin:9 Karangan Ali Hakim, Pendidikan Seumur Hidup: Sebuah Studi, sudah terbit. Tjokronegoro, Sutomo, Tjukupkah Saudara membina Bahasa Persatuan Kita?, |
10. Tanda Kurung ((...))
| a. | Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan. |
| | Misalnya: · Bagian Perencanaan sudah selesai menyusun DIK (Daftar Isian Kegiatan) kantor itu. |
| b. | Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok pembicaraan. |
| | Misalnya: · Sajak Tranggono yang berjudul "Ubud" (nama tempat yang terkenal di · Keterangan itu (lihat Tabel 10) menunjukkan arus perkembangan baru dalam pasaran dalam negeri. |
| c. | Tanda kurung mengapit huruf atau kata yang kehadirannya di dalam teks dapat dihilangkan. |
| | Misalnya: · Kata cocaine diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kokain(a). · Pejalan kaki itu berasal dari ( |
| d. | Tanda kurung mengapit angka atau huruf yang memerinci satu urutan keterangan. |
| | Misalnya: · Faktor produksi menyangkut masalah (a) alam, (b) tenaga kerja, dan (c) modal. |
11. Tanda Elipsis (...)
| a. | Tanda elipsis dipakai dalam kalimat yang terputus-putus. |
| | Misalnya: · Kalau begitu ... ya, marilah kita bergerak. |
| b. | Tanda elipsis menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau naskah ada bagian yang dihilangkan. |
| | Misalnya: · Sebab-sebab kemerosotan ... akan diteliti lebih lanjut. |
| Catatan: Jika bagian yang dihilangkan mengakhiri sebuah kalimat, perlu dipakai empat buah titik; tiga buah untuk menandai penghilangan teks dan satu untuk menandai akhir kalimat. Misalnya: Dalam tulisan, tanda baca harus digunakan dengan hati-hati .... |
| |
12. Tanda Garis Miring (/)
| a. | Tanda garis miring dipakai di dalam nomor | ||||
| | Misalnya: No. 7/PK/1973 Jalan Kramat III/10 tahun anggaran 1985/1986 | ||||
| b. | Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata atau, tiap. | ||||
| | Misalnya:
|
Minggu, 29 November 2009
Pemilihan Topik
jawab:
- Topik harus menarik perhatian penulis.
Topik yang menarik perhatian akan memotivasi pengarang penulis secara terus-menerus mencari data-data untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. Penulis akan didorong agar dapat menyelesaikan tulisan itu sebaik-baiknya. Suatu topik sama sekali tidak disenangi penulis akan menimbulkan kesalahan. Bila terdapat hambatan, penulis tidak akan berusaha dengan sekuat tenaga untuk mengumpulkan data dan fakta yang akan digunakan untuk memecahkan masalah.
- Jangan terlalu baru, teknis, dan kontroversial.
Bagi penulis pemula, topik yang terlalu baru kemungkinan belum ada referensinyadalam kepustakaan. Topik yang terlalu teknis kemungkinan dapat menjebak penulis jika tidak benar-benar menguasai bahan penulisannya. Begitu juga topik yang kontroversial akan menimbulkan kesulitan untuk bertindak secara objektif.
-Bermanfaat.
Topik yang dipilih hendaknya bermanfaat yang ditinjau dari segi akademis maupun segi praktis.
Penulis harus membatasi topik yang akan ditulis. Setiap penulis harus betul-betul yakin bahwa topik yang dipilihnya cukup sempit dan terbatas untuk digarap sehingga tulisannya dapat terfokus.
- Diketahui oleh penulis.
menulis hendaklah mengerti atau mengetahui meskipun baru prinsip-prinsip ilmiahnya.
Contoh:
* Mencari sumber-sumber data dari mana pun.
* Metode atau penerapan yang digunakan.
* Metode analisis yang akan digunakan.
* Buku-buku referensi yang digunakan.
2). jelaskan dan berikan contoh cara-cara pembatasan topik ?
jawab:
Hal yang perlu diperhatikan penulis ialah pembatasan topik. Pembatasan topik sekurang-kurangnya dapat membantu penulis atau pengarang dalam berbagai hal berikut ini :
- Memungkinkan penulis penuh dengan keyakinan dan kepercayaan bahwa topik tersebut benar-benar diketahuinya.
- Memungkinkan penulis mengadakan penelitian dengan intensif mengenai masalahnya.
Cara membatasi sebuah topik dapat dilakukan dengan cara :
1. Tetapkanlah topik dalam kedudukan sentral.
2. Ajukan pertanyaan apakah topik tersebut masih dapat dirinci?.
3. Tetapkanlah yang mana subtopik yang akan dipilih.
4. Ajukanlah pertanyaan apakah subtopik yang dipilih masih dapat dirinci lebih lanjut.
5. Lakukan proses diatas secara terus-menerus hingga mendapatkan sebuah Tema.
Jika telah mendapatkan topik yang sesuai apalagi yang perlu dicari?. Dalam sebuah karya tulis, pemilihan judul juga perlu diperhatikan. berikut syarat-syarat judul yang baik :
1. Original dan asli.
2. Relevan.
3. Provokatif.
4. Singkat.
contoh pembatasan topik yaitu:
Masalah Apa
- industri pangan
- limbah pabrik
Mengapa (frasa, bukan kalimat)
-Mengembang
→pengembangan
-Mencemari →pencemaran
Dimana
- di Ibu Kota Jawa Barat
- di Pedalaman kota Bandung
Kapan
-Tahun 1987
-Tahun 2002
- Pengembangan industri pangan di Ibu Kota Jawa Barat Tahun 1987
- Pencemaran limbah pabrik di pedalaman Kota Bandung Tahun 2002
jawab:
1. Jelas gagasan pokok dan tujuannya.
2. Ada kesatuan gagasan.
3. Dikembangkan dengan baik:
- Gagasan pokok rinci.
- Rincian diurutkan secara logis.
4. Asli;
- Pokok persoalan.
- Sudut pandang.
- Rangkaian kalimat.
- Pilihan kata.
5. Judul harus;
a.Asli
Jangan menggunakan judul yang sudah pernah ada, bila terpaksa dapat dicarikan sinonimnya.
b.Relevan
Setelah menulis,baca ulang karangan anda, lalu carilah judul yang relevan dengan karangan anda.
c.Provokatif
Judul tidak boleh terlalu sederhana, sehingga(calon) pembaca sudah dapat menduga isi karangan anda, kalau(calon) pembaca sudah dapat menebak isinya tentu karangan anda sudah tidak menarik lagi.
d.Singkat
Judul yang singkat memungkinkan pembaca menangkap secara cepat maknanya,Bila judul itu panjang,(calon) pembaca harus membuang energi terlebih dahulu untuk membacanya.
Selasa, 03 November 2009
Kalimat Efektif
1. Kontaminasi
2. pleonasme
3. ambiguitas
4. tidak jelasnya unsur subjek
5. kemubaziean preposisi
6. kesalahan logika
7. ketidaktepatan bentuk jata
8. ketidaktepatan makna kata
9. pengaruh bahasa daerah
10. pengaruh bahasa asing
contohnya:
1.- tidak efektif:
Mereka sedang mempertinggikan pematang
- efektif:
Mereka sedang meninggikan pematang
2. - tidak efektif :
Banyak anak-anak bermain kelereng
-efektif
Banyak anak bermain kelereng
3. -tidak efektif :
Datanglah pada ulang tahun anakku yang kedua
-efektif :
Datangkah pada ulang tahun anakku-yang kedua
4. -tidak efektif :
Kepada para mahasiswa diharap tenang
-efektif :
Para siswa diharap tenang
5. -tidak efektif :
Anak dari Pak Ahmad menjadi polisi
-efektif :
Anak PAk Ahmad menjadi polisi
6. -tidak efektif :
Pencuri berhasil ditangkap polisi
-efektif :
Pencuri telah ditangkap polisi
7. -tidak efektif :
Mereka dimintai pertanggungan jawabnya
-efektif :
Mereka dimintai pertanggungjawabnya.
8. -tidak efektif :
Ia sedang marah sehingga acuh ketika melihatku
-efektif :
Ia sedang marah sehingga tidak acuh ketika melihatku
9. -tidak efektif :
Rumahnya Pak Dirman sedang dicat
-efektif :
Rumah Pak Darman sedang dicat
10. -tidak efektif :
Saya tidak mengetahui dimana ia sembunyi
-efektif :
Saya tidak mengetahui persembunyiannya
Minggu, 18 Oktober 2009
DIKSI
1. Apa pengertian dari diksi ?
Diksi adalah pemilihan kata yang tepat dalam suatu proses komunikasi untuk mempertegas maksud pembicara agar tidak terjadi kesalah pahaman antara pembicara dengan pendengar tentang ide dan gagasan yang disampaikan. Jika diksi yang dipakai tidak sesuai dengan konteks, maka akan terjadi kesalahpahaman tentang ide dan gagasan yang disampaikan.
2. Sebutkan hal-hal yang mempengaruhi diksi berdasar kemampuan pengguna bahasa ?
- cara mengimplementasikan sesuatu kedalam sebuah situasi
- penguasaan sejumlah kosa kata yang sering didengar bagi masyarakat
- perangkaian kata – kata menjadi serangkaian kalimat yang jelas dan efektif sehingga sesuai dengan gagasan utama
3. sebutkan fungsi dari diksi !
• Menciptakan suasana yang tepat.
• Membentuk gaya ekspresi gagasan yang tepat (sangat resmi, resmi, tidak resmi) sehingga menyenangkan pendengar atau pembaca.
• Mencegah salah pemahaman.
• Mengefektifkan pencapaian target komunikasi.
• Melambangkan gagasan yang di ekspresikan secara verbal.
Minggu, 11 Oktober 2009
Tugas Bahasa Indonesia
Ragam bahasa adalah variasi bahasa menurut pemakaian yang bebeda-beda, menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungna pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan serta menurut medium pembicara.
2. Sebutkan dan jelaskan hal-hal yang menyebabkan timbulmya ragam bahasa:
Penyebab-penyebab adanya ragam bahasa disebabkan tiga hal yaitu :
Perbedaan wilayah
Setiap daerah mempunyai perbedaan kultur atau daerah hidup yang berbeda seperti wilayah Jawa dan Papua dan beberapa wilayah Indonesia lainnya
Perbedaan demografi
Setiap daerah memiliki dataran yang berbeda seperti wilayah di daerah pantai, pegunungan yang biasanya cenderung mengunakan bahasa yang singkat jelas dan dengan intonasi volume suara yang besar. Berbeda dengan pada pemukiman padat penduduk yang menggunakan bahasa lisan yang panjang lebar dikarenakan lokasinya yang saling berdekatan dengan intonasi volume suara yang kecil.
Perbedaan adat istiadat
Setiap daerah mempunyai kebiasaan dan bahasa nenek moyang senderi sendiri dan berbeda beda.
3. Sebutkan dan jelaskan Ragam resmi berdasarkan media:
Ragam bahasa berdasarkan media/sarana
1. Ragam bahasa Lisan
Ragam bahasa lisan adalah bahan yang dihasilkan alat ucap (organ of speech) dengan fonem sebagai unsur dasar dalam ragam lisan kita berurusan dengan tata bahasa, dan lafal. dalam bahasa lisan ini pembicara dapat memanfaatkan tinggi rendah suara atau tekanan air muka, gerak tangan atau syarat untuk mengungkapkan ide.
2.ragam bahasa tulis
ragam bahasa tukis adalah ragam yang dihasilkan dengan memanfaatkan tulisan dengan huruf sebagai unsur dasarmya. dalam ragam tukis, berurusan dengan tata cara penulisan (ejaan) disamping aspek tata bahasa dan kosa kata. dengan kata lain dalam ragam bahasa tulis, kita dituntut adanya kelengkapan unsur tata bahasa seperti bentuk kata ataupun susunan kalimat, ketetapan pilihan kata, kebenaran penggunaan ejaan, dan penggunaan tata baca dal;am mengungkapkan ide
contoh:
1. Putri bilang kita harus pergi 1. Putri mengatakan bahwa kita harus pulang
2. Ayah lagi baca koran 2. Ayah sedang membaca koran
3. Saya tinggal di Bogor 3. Saya bertempat tinggal di Bogor